29 Februari 2008

LITURGI GEREJA KRISTEN INDONESIA

Mengapa Liturgi GKI Mirip Liturgi Katolik?

Oleh: Rasid Rachman

PENDAHULUAN
Sehubungan dengan pembaruan liturgi di tubuh Gereja Kristen Indonesia, banyak orang sekonyong-konyong tersentak bahwa liturgi GKI “koq liturgi kembali ke ‘masa lalu’”, atau “kembali ke Katolik”, atau “mirip Katolik,” dsb. GKI sekarang bertata liturgi, stola, kalung salib “meniru katolik”. Ketersentakkan tersebut terasa belum sah apabila belum melihat sejarah liturgi dalam tubuh Protestanisme.Liturgi Gereja Protestan, harus disadari sebagai liturgi-liturgi Gereja-gereja Protestan. Hal ini menyatakan bahwa di Gereja Protestan tidak ada liturgi yang satu sebab tidak ada satu Gereja Protestan, berbeda dengan Roma Katolik dan Anglikan, terutama sebelum terasanya dampak dari liturgical movement[1] dan konvergensi liturgi dari World Council of Churches (tersusunnya Liturgi Lima) pada tahun 1983.
Lahirnya istilah “liturgi Protestan”, bermula dari polemik antara Pimpinan Gereja Roma Katolik dan beberapa orang yang kemudian yang disebut: Reformator (Jerman, Jenewa, dan Inggris), pada zaman Reformasi (abad ke-16). Sebelum abad ke-16, dunia hanya mengenal satu liturgi barat (yakni liturgi Roma) – yang memang berbeda dengan liturgi timur (mulai terpisah sejak abad ke-6 hingga ke-10) – dari Abad-abad Pertengahan. Kemudian, seturut dengan perkembangan atau polemik di dalam tubuh Gereja Protestan sendiri dan ajaran pietisme serta revivalism di dalam sejarah, bermunculan pula berbagai liturgi di kalangan Protestan.
White menelusuri ada sembilan induk liturgi Gereja-gereja Protestan,[2] yang semuanya berasal dari induk tradisional liturgi barat (Roma), yaitu:
1) Lutheran dari Wittenberg ke negara-negara Jerman dan Skandinavia abad ke-16.
2) Reformed (Calvinis) bermula dari Zürich dan Jenewa (Swis) dan Starsbourg (Perancis) abad ke-16 kemudian berkembang ke Belanda, Perancis, Skotlandia, Hongaria, dan Inggris.
3) Anabaptis di Swis sejak 1520-an.
4) Anglikan untuk Gereja Inggris yang muncul sesaat setelah Lutheran.
5) Separatis dan Puritan muncul pada abad ke-17 sebagai protes terhadap kemapanan Gereja negara (Anglikan).
6) Quaker abad ke-17 yang membuat terputusnya tradisi peribadahan, sebab beribadah tanpa khotbah, nyanyian dan pembacaan Alkitab.
7) Metodis abad ke-18 merupakan percampuran antara liturgi Roma Abad-abad Pertengahan dan Anglikan dengan Puritan.
8) Frontier abad ke-19, dan
9) Pantekostal abad ke-20 merupakan warna khas spiritual Amerika.[3]

Di Indonesia, secara garis besar ”hanya” ada tiga warna liturgi yang dikenal, yaitu: Roma Katolik, Protestan, dan Pantekostal.
Pembagian tersebut tidak terlalu solid, namun lazim diucapkan oleh sementara orang Kristen. Liturgi Gereja Roma Katolik, biasanya sudah jelas. Liturgi Gereja-gereja Protestan di Indonesia dikenakan kepada Gereja-gereja arus utama, semisal: HKBP, GPIB, GKJ, GKP, GKI, dsb.; jumlahnya sekitar 60 Gereja. Di luar itu, liturgi Pantekostal dikenakan kepada Gereja-gereja Injili, semisal: Gereja-gereja Pantekosta, Betel, Karismatik, Betel, Betani, Tiberias, dsb. Jadi, hingga sebelumnya lahirnya gerakan Pantekosta, Gereja-pereja Protestan (1, 2, 4, dan 7 di atas) berliturgi langsung dari induk Misa Roma.
Liturgi GKI, dan sebagian besar liturgi Gereja-gereja di Indonesia, berasal dari garis induk liturgi Reformed (Calvinis) sayap ekumenis. Warna liturgi Calvinis yang ada di GKI tersebut tidak murni, namun telah bercampur dengan warna Metodis dan Baptis serta para penginjil awam atau pengkhotbah keliling (misal: John Sung dan Dzao Sze Kwang) pada sebelum pertengahan abad ke-20. Pengaruh dari percampuran tersebut masih terasa hingga sekarang, misalnya dengan pemilihan tema-tema nyanyian jemaat yang cenderung “ke dalam”,[4] dan dominannya segi devosional-personal dalam nyanyian dan liturgi.

I. LITURGI LUTHER DAN CALVIN
Martin Luther (1483-1546) dan Johannes Calvin (1509-1564) sebenarnya tidak bertujuan mengubah dan menciptakan liturgi Protestan yang tersendiri atau berbeda dengan liturgi Roma Katolik Abad-abad Pertengahan, walaupun mereka tidak ingin berteologi Gereja Roma. Pembaruan para Reformator adalah pembaruan teologi, walaupun kemudian mau tak mau berdampak pada pembaruan liturgi. Tujuan pembaruan para Reformator adalah sekitar masalah praktek beragama umat Kristen dan teologi waktu itu yang dialaskan pada ajaran pimpinan Gereja.Hal ini menjadi jelas jika mengambil contoh kerja dari Luther dan Calvin.
Pembaruan Luther hanya menyangkut soal-soal praktis (memang didasarkan dari pemahaman teologis Abad-abad Pertengahan) yang merupakan konsekuensi berteologi Luther (dan Calvin), yaitu:
1) hak umat menerima dua elemen perjamuan (roti dan anggur) dari sebelumnya hanya roti saja untuk umat;
2) khotbah ditempatkan kembali dalam setiap liturgi Minggu dari sebelumnya khotbah tidak pernah disampaikan;
3) pembacaan Alkitab dilakukan dalam bahasa pribumi dari sebelumnya dalam bahasa Latin;
4) busana Pendeta bukan busana Imam, melainkan busana sarjana (guru);
5) nyanyian jemaat harus dinyanyikan oleh umat dalam bahasa pribumi (walaupun ia menggunakan nyanyian Latin). Namun dalam melakukan pembaruan, Luther berangkat dari jalur misa Roma.[5]

Di samping itu, Luther menyusun buku-buku liturgi Formula Missae (1523), dan diperbarui dalam Deutsche Messe (1526). Penyusunan Buku-buku Ibadah merupakan “gaya” Gereja Roma Katolik. Kedua buku karya Luther tersebut bersuasana Roma, walaupun lambat laun semakin jauh melepaskan pengaruh Gereja Roma Katolik. Hal ini dipahami bahwa Luther sendiri adalah Imam dan rahib yang lahir dan besar di alam liturgi barat Abad-abad Pertengahan.[6]
Pembaruan Calvin menyangkut dua soal, yaitu:
1) menyusun buku liturgi, dan
2) memprakarsai buku nyanyian Mazmur Jenewa.

Soal kedua Reformator ini menyusun buku liturgi merupakan hal yang tidak sesuai dengan kesan akan jarangnya buku-buku liturgi di Gereja-gereja dan umat Protestan dewasa ini.[7]
Berbeda dengan Luther yang masih mempertahankan misa Abad-abad Pertengahan, Calvin menghendaki perubahan radikal (radix = akar) dengan disusunnya buku La Forme des Prieres et Chantz ecclesiastique, avec la maniere d’administrer les Sacramens, et consacrer le Mariage: selon la coustume de l’Eglise ancienne. Judul ini memperlihatkan bahwa perubahan Calvin adalah “seturut” liturgi Gereja mula-mula, sebab lebih sesuai dengan Alkitab. Dalam pemahamannya itu, menurut Calvin liturgi Minggu yang lengkap adalah jika dilayankan pemberitaan firman dan perjamuan kudus. Jika hanya ada pemberitaan firman, maka baru merupakan setengah ibadah atau ante-communio (ibadah sebelum perjamuan kudus).[8] Membandingkan dan melihat liturgi zaman kini, maka “liturgi yang paling Calvin” adalah liturgi Roma Katolik, sebab ada pemberitaan firman dan perjamuan kudus dalam setiap ibadah.
Sesuai dengan Luther dan Calvin, penyusunan buku liturgi beralaskan pada perumusan ulang pemahaman teologi dan kehidupan bergereja.[9] Buku liturgi adalah bukti dasar dan rumusan tertulis tentang ajaran dan teologi Gereja. Calvin menyusun dua buku liturgi, yaitu: liturgi Jenewa (1542) dan Strasburg (1545).Tentang hal-hal praktis dan tidak fundamental, Calvin menempatkannya secara proporsional pula. Embel-embel dalam misa Roma harus dibersihkan. Misalnya (Inst IV,xvii,43, h 249): tidak menjadi soal umat menerima roti dengan tangan atau tidak (waktu itu dan masih dilakukan oleh beberapa orang saat ini, umat RK tidak boleh menyentuh roti), roti dibagikan di antara umat atau hanya langsung dari Imam, roti beragi atau tidak (pernah dipersoalkan antara Ortodoks dan Roma di Abad-abad Pertengahan), cawan dikembalikan ke Diakon atau kepada orang sebelahnya, anggur merah atau putih (persoalan muncul apabila Gereja di daerah terpencil tidak memperoleh anggur merah, sebagaimana juga pernah terjadi di Indonesia pada perang dunia ke-2).
Ciri kuat dari liturgi Gereja-gereja Protestan adalah pada teologi bagi umat, bukan teologi bagi Imam. Fokus liturgi ada pada partisiasi umat secara aktif. Hal inilah yang membedakannya dengan liturgi Roma dan Ortodoks.

II. LITURGI GKI DALAM KLASIFIKASI GEREJA-GEREJA PROTESTAN
Liturgi GKI baru terbentuk pada tahun 1966 dengan dipergunakannya Liturgi Minggu Sinode Am GKI. Komisi yang mengerjakannya adalah: Han Bin Kong, Oey Siauw Hian, Pouw Boen Giok, Lie Sian Hui (Clement Suleeman, † 1988). Liturgi itu adalah liturgi hari Minggu (dikenal juga dengan Tatatjara Kebaktian Hari Minggu). Sedangkan liturgi-liturgi lain masih berjalan sendiri-sendiri di Jabar, Jateng, dan Jatim (mungkin hingga saat ini?).Liturgi hari Minggu tersebut merupakan hasil penyesuaian liturgi-liturgi Minggu ketiga Sinode, yakni GKI Jawa Barat, GKI Jawa Tengah, dan GKI Jawa Timur, dan liturgi-liturgi dari Gereja-gereja mainstream di Indonesia. Dengan demikian, liturgi GKI termasuk dalam klasifikasi Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Liturgi GKI dipersamakan saja dengan liturgi-liturgi HKBP, GPIB, GKJ, GKP, dsb.Sejauh ini belum ada catatan resmi tentang akar liturgi GKI, namun sejak tahun 1966 setiap sinode wilayah GKI memiliki warisan liturgi hasil penerjemahan dari Gereja-gereja Hervorm dan Gerevormed di negeri Belanda tahun 1950-an. Hal yang serupa juga dialami oleh Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Itulah sebabnya, warna liturgi GKI bercorak Gereja-gereja Reformasi Belanda atau Eropa abad ke-19, dan terlihat kuat pengaruh ritus Roma Abad-abad Pertengahan.
Di luar catatan, gaya beribadah orang GKI ini sudah sejak dahulu seperti ini. Alasannya:
1. Garis tradisi Gereja Reformasi Belanda yang merupakan garis tradisi Gereja Calvinis.
2. Gereja-gereja Pantekosta belum semarak masuk di Indonesia hingga tahun 1960-an, sehingga tidak ada warna ibadah lain.

Sekalipun John Sung dan Dzao Sze Kwang pernah menginjili orang-orang Tionghoa dalam kebaktian kebangunan rohani, gaya KKR kedua penginjil tersebut tidak “semeriah” tahun 1980-an. Jadi, gaya beribadah orang GKI yang hening dan cenderung meditatif dan liturgi GKI yang terikat pada susunan baku sendiri memang “begini” dari sononya. Dan gaya itu seperti tidak salah!

III. LITURGI EKUMENIS
Liturgi ekumenis bermula dari Liturgi Lima-Peru, melalui sidang WCC 1982, mulai menunjukkan kematangannya menuju kesepolaan (konvergensi). Hasil liturgi Lima tersebut digunakan dalam dua Sidang Raya di Vancouver 1983 dan Canbberra 1991. Setelah Konferensi Faith and Order V di Santiago de Compostela-Spanyol 1993, Konsultasi “Toward Koinonia in Worship: The Role within the Search for Unity” di Ditchingham-Inggris 1994 merekomendasikan bahwa Liturgi Lima tersebut untuk dipelajari dan dievaluasi, terutama menyangkut perkembangan hubungan di antara umat Kristen dalam lima belas tahun terakhir.[10] Yang dimaksud dengan “perkembangan hubungan di antara umat Kristen” adalah penghargaan terhadap keberbagaian budaya, usia, etnis, warna kulit, dan tradisi teologi yang saling bertemu dalam dua dasarwarsa. Keberadaan di dalam bingkai konvergensi – yakni pola Liturgi Lima – ditempatkan dengan menjunjung tinggi diversitas masing-masing.
Maka selama sepuluh hari menjelang hari raya Yesus Naik ke Sorga tahun 1995 di Institut Ekumenis Bossey-Swis, tiga puluh lima orang yang terdiri dari berbagai belahan bumi berhasil memproklamasikan kesatuan atau kesepolaan liturgi yang memancar melalui keberbagaian ritus kontekstual.[11] Ikrar Bossey ini penting, sebab kecurigaan sementara kalangan tentang liturgi ekumenis disamakan dengan pembaratan, dapat didamaikan. Keseragaman – termasuk klaim bahwa liturginya adalah yang paling benar dan asli – tidak lagi berada di dalam bingkai liturgi ekumenis. Dalam pertemuan-pertemuan internasional, nyanyian dan unsur-unsur liturgi yang bernuansa etnik justru mendapat penghargaan tinggi. Ironis, justru pembangunan gedung-gedung Gereja di Indonesia menjiplak arsitektur barat dari abad-abad lalu.
Dalam penyusunan buku liturginya dan sesuai teologi GKI yang sedang berada pada selera dan kecenderungan ekumenis, sinode membuat liturgi ekumenis sebagai konsekuensi logis teologi GKI yang sedang berjalan. Walaupun liturgi ekumenis (ala WCC) belum dikenal oleh jemaat GKI, namun perlu dimulai agar penyatuan antar tiga Sinode GKI di Jawa tidak menjadi penyendirian dari gerakan liturgis yang ekumenis.
Kiblat ekumenikal liturgi GKI terlihat dari acuan yang digunakan dalam menyusun buku ini. Yakni pola Dewan Gereja se-Dunia (DGD), terutama Liturgi Minggu, Liturgi Perjamuan, dan Liturgi Baptisan. Ketiga liturgi tersebut mengacu pada Liturgi Lima-Peru 1982. (Thurian, h 249-255; 94-96). Walaupun corak Eropa abad yang lalu dari – terutama Gereja-gereja Reformasi Belanda – tak dapat segera dienyahkan, namun tampak adanya acuan kepada corak Gereja-gereja maintream yang sejalan dengan gerakan ekumenis dan gerakan liturgis.
DGD menyusun sebuah liturgi sebagai hasil dari pengayakan beberapa tradisi dan denominasi Gereja, antara lain: naskah-naskah Bapa-bapa Gereja, Luther dan Lutheran, Zwingli dan Calvin, Calvinis (Reformed), Anglikan dan Metodis, dsb. Berdasarkan pola kerja penyusunannya, maka sifat Liturgi Lima ini adalah ekumenis.Pola liturgi ekumenis dianggap paling cocok dan paling netral dengan liturgi kita. Ada tiga alasan yang mendasarinya, yaitu:
1. Munculnya buku ini adalah karena gerakan penyatuan ketiga sinode GKI (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur). Akibatnya ketiga pihak akan mendapat ”kerugian” (“identitas”-nya atau kebiasaannya seolah-olah hilang) karena harus berkorban guna memperoleh “keuntungan” bersama (liturgi GKI berada bersama dengan liturgi Gereja-gereja berafiliasi dalam gerakan ekumenis). Dengan demikian, Liturgi Lima menjadi acuan untuk “jalan tengah”, bukan “jalan pintas”.
Konsekuensinya, perlu diadakan penyesuaian dan pembaruan liturgis. Misalnya: nyanyian doksologi (nyanyian berkat) yang selama ini masih diambil dari Mazmur Jenewa 134:3 akan diganti dengan yang lebih pas (yang waktu dulu belum ada) yakni KJ 303 “Pujilah Khalik Semesta”. Unsur tanya-jawab dalam perjamuan kudus yang tekanannya bersifat personal, akan dibarui menjadi lebih ekumenis, yakni sanctus-benedictus, anamnesis, Doa Syukur Agung dan Anakdomba Allah.
2. Menerapkan Liturgi Lima bukan tanpa masalah. Beberapa unsur dari Liturgi Lima belum lazim dilakukan di Gereja-gereja Indonesia, termasuk GKI, semisal: Kyrie-Gloria, sebagai alternatif Petunjuk Hidup Baru (PHB) dan Nyanyian Kesanggupan; perjamuan kudus yang menjadi satu dengan persembahan.
Tidak semua unsur dari Liturgi Lima sama sekali asing bagi GKI. Ada beberapa hal sebenarnya sudah dapat diterapkan, karena mudahnya persoalan. Misalnya: votum (dalam nama Tuhan) dijawab amin, sekarang masih didiemin oleh umat atau bersambung langsung dengan salam; salam (Tuhan besertamu) dijawab salam pula; doa syafaat atau doa umat menjadi doa pengantara pemberitaan firman di mimbar dan persembahan di meja perjamuan. Perubahan unsur-unsur ini telah ada dalam buku liturgi tahun 1994.3. Pembaruan liturgi GKI sendiri. Liturgi hari Minggu GKI yang sekarang masih digunakan adalah liturgi hasil penerjemahan tahun 1966. Dengan menggunakan liturgi ekumenis, maka GKI dapat berada selangkah lebih di depan daripada Gereja-gereja Protestan di Indonesia yang lain.
Memang, liturgi ekumenis yang diajukan secara signifikan di GKI ini menyebabkan ketidaksiapkan (berupa kejutan!) psikologis anggota GKI. Alasannya, liturgi GKI terkesan menjadi seperti Katolik. Kesan tersebut wajar dirasakan, sebab globalisasi penyatuan Gereja-gereja ekumenis yang terlihat melalui liturgi. Bukan hanya GKI, tetapi setiap Gereja Protestan yang mengikuti arus gerakan liturgis (sejak tahun 1970-an, pengaruh Konsili Vatikan II) akan merasakan hal yang sama. Juga bukan hanya Protestan, Gereja Roma Katolik juga pernah merasakan (sejak tahun 1940-an, masa Paus Pius XII [1876-1958] dalam surat penggembalaan Mediator Dei [1947]) bahwa liturginya telah menjadi lebih Protestan. Lambat laun dan secara bertahap, liturgi-liturgi ekumenis (bukan semakin katolik atau semakin protestan, melainkan semakin oikumennis!) yang “semakin dekat” ini akan berpola sama.[12]
Diagram divergensi[13] dan konvergensi kedua liturgi barat
Liturgi Protestan Liturgi Abad-abad Pertengahan
Liturgi Roma Katolik1520 1570 1940 1970

Sesuai kerangka pembicaraan di atas, agak mengherankan bahwa ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa dalam hal liturgi sebaiknya kita berafiliasi kepada sayap injili atau Pantekostal, seperti: Karismatik, Betani, Tiberias, Reformed Injili, dsb., [14] yang jelas-jelas tidak berada pada jalur gerakan ekumenis sebagaimana dianut oleh teologi GKI. Hal ini dapat dibandingkan dengan upaya yang dilakukan oleh Yayasan Prof. Dr. G. van der Leeuw di Belanda yang menciptakan Oecumenisch Ordinarium, yakni liturgi sinaksis dan perjamuan yang menggunakan baik unsur-unsur tradisi Katolik maupun Protestan dan tradisi lama. Alasannya adalah agar liturgi tersebut dapat dipakai dalam ibadah bersama.[15] Ada semangat ekumenis. Motivasi pembaruan liturgi ini juga agar liturgi bukan hanya terfokus pada khotbah, sedangkan unsur-unsur liturgi yang lain menjadi terabaikan. Pembaruan liturgi berarti membarui liturgi secara utuh agar ia menjadi sarana membentuk spiritualitas gereja. Berangsung-angsur, pembaruan liturgi ekumenis merambah juga ke tahun liturgi dan kalender Gereja yang saat masih masih merupakan sesuatu yang asing di GKI. Bahkan simbol melalui tata gerak dan visualisasi gambar perlu menjadi perhatian GKI kemudian. Jadi kalau di Gereja-gereja ekumenis, dan bahkan di Belanda sendiri, terjadi usaha saling “mendekatkan” (convergence), masakan kita yang di Indonesia (dhi. penyatuan ketiga sinode GKI) justru ingin saling “menjauhkan” (divergence).

PENUTUP
Walaupun gerakan liturgis lahir dari Roma Katolik (dhi. Biara Benediktin di Solésmes-Perancis abad ke-19), namun lambat laun dampaknya merambah ke berbagai denominasi. Maraknya semangat pembaruan dan berseminar liturgi di GKI dan di Indonesia dewasa ini sebenarnya tidak lepas kaitannya dengan pengaruh liturgical movement di dunia internasional (atau di Gereja-gereja ekumenis) sejak seabad lalu dan lahirnya semangat ecumenical movement pada awal abad ke-20 ini. Namun karena di GKI – dan kebanyakan Gereja-gereja Protestan di Indonesia – belum pernah terjadi perubahan atau revisi liturgi secara signifikan (misalnya di GKI Jabar sejak tahun 1967 – bnd dengan RK yang telah beberapa kali melakukan revisi sejak tahun 1970), maka terasa sekali drastisnya perubahan liturgi saat ini. Hal tersebut tentu mengejutkan banyak pihak, baik umat maupun Pendeta. Buku-buku liturgi yang diterbitkan dalam 30 tahun ini biasanya sekitar perubahan letak unsur ini dan itu, penyeragaman, dan penyediaan “sarana” untuk berliturgi bersama untuk setiap sinode wilayah, kompilasi, dan pengesahan kebiasaan liturgi yang telah dilakukan oleh beberapa jemaat. Perubahan yang lebih mendasar (misalnya: berdasarkan studi histori dan liturgi) belum dijangkau, sehingga hingga saat ini kita (misalnya GKI Jabar) belum memiliki acuan teologis menyangkut liturgi.

Catatan-catatan
[1] Lihat sejarah litugical movement dalam Rasid Rachman, Pengantar Sejarah Liturgi, h 126-132.
[2] James F. White, Protestant Worship: Traditions in Transition, bagian daftar isi.
[3] James F. White, Introduction to Christian Worship (Revised Edition), h 43-44 dan Protestant, h 23. Selanjutnya White juga menyusun diagram warna liturgi-liturgi Protestan dalam perbandingan, sebagai berikut:
SAYAP KIRI TENGAH SAYAP KANAN
abad ke-16 Anglikan
Lutheran Reformed Anabaptis

Quaker
abad ke-17 Puritan
abad ke-18 Metodis
abad ke-19 Frontier
abad ke-20 Pantekostal

*) Semakin ke kanan, semakin dekat dengan liturgi Abad-abad Pertengahan.[4] Rasid Rachman, Liturgi Sakramen GKI Jabar: penguraian sejarah liturgi dan refleksi bagi perkembangan liturgi sakramen. (skripsi STT Jakarta 1989, tidak diterbitkan), h 95-96.
[5] Ibid., h 89. Juga ada informasi bahwa liturgi di Gereja Lutheran di Eropa masih sangat kuat terasa liturgi katolik Abad-abad Pertengahan ketimbang liturgi Roma Katolik dewasa ini. Soal khotbah, h 90-91, yang dimaksud oleh Luther adalah homili dan perjamuan kudus. Soal nyanyian Luther, h 92, Kyrie-Gloria dinyanyikan oleh umat.
[6] White, Protestant, h 17.
[7] Ibid., h 13-14. Ditambah pengalaman saya akan sangat sulitnya mencari, meminta, dan mengumpulkan buku-buku liturgi dari Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Sekalipun ada, cetakannya masih sangat ketinggalan zaman dan isinya konvensional. Hal ini berbeda dengan umat Katolik dan Anglikan yang akrab dengan buku ibadahnya.
[8] Christiaan de Jonge, Apa itu Calvinisme?, h 167-168. Rachman, h 95-96 menginformasikan bahwa Calvin mengambil liturgi Martin Bucer, yakni liturgi Strasburg 1524: Grund und Ursach der Neuerungen an dem Nachtmahl des Herren.
[9] Ibid., h 166-167.
[10] Rodney Matthews, A Participant’s Introduction: Ecumenical Liturgy in Principle and Practice, dalam Thomas F. Best & Dagmar Heller (editors), Eucharist Worship in Ecumenical Contexts. WCC 1998, h 9-10.
[11] Matthews, h 9.
[12] White, Protestant, h 33-35. Diagram divergensi, h 29, diagram konvergensi, h 34. Gerakan liturgis dan uraian diagram konvergensi, h 32-33.
[13] Ibid., h 29 menginformasikan divergensi liturgi bermula dari ekskomunikasi oleh Gereja terhadap Luther antara tahun 1520 dan 1521. Puncak divergensi adalah tahun 1570 ketika Gereja mengekskomunikasi Ratu Elizabeth I. Sejak tahun 1570, hubungan antara Roma dan Protestan dan Anglikan terputus dan jalan sendiri-sendiri. Bahkan Anglikan yang telah memiliki buku liturgi sendiri yang berpola Lutheran: Book of Common Prayer (BCP), semakin teguh dengan kemandirian bukunya itu. Tentang lahirnya liturgi Anglikan, lihat Rachman, Pengantar, h 114-117.
[14] Pengamatan saya, pantekostal melakukan pembaruan liturgi tidak pada kese-pola-an liturgi dan teologi liturgi.
[15] de Jonge, h 176-177.

*) Makalah ini pernah dibawakan dalam seminar Komisi Pengkajian Teologi GKI SW Jabar di Bandar Lampung, Mei 2005.

Tidak ada komentar: