10 Maret 2008

PERJAMUAN KUDUS DI GEREJA KRISTEN INDONESIA

DAN MAKNANYA DALAM SEJARAH LITURGI


Oleh: Rasid Rachman


I. MAKNA PERJAMUAN KUDUS MENURUT SEJARAH
Perjamuan kudus merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan bergereja yang dirayakan. Ia memiliki sejarah panjang hingga mencapai pemahaman dan prakteknya dewasa ini. Berdasarkan sejarah liturgi, perjamuan kudus atau ekaristi (eucharistia = pengucapan syukur) dipahami sebagai berikut:
Pertama, tanda kebersamaan.[1] Ini merupakan inti dari perjamuan kudus yang ditampakkan melalui praktek ibadah gereja abad-abad pertama. Ibadah perjamuan tidak dilakukan secara individu, melainkan bersama dan dalam komunitas. Penampakkannya diawali dengan pengucapan syukur yang berupa persembahan in natura berupa: roti, anggur, dan air. Sejak semula hingga kini, persembahan dan perjamuan merupakan satu kesatuan. Umat sendiri memberikan persembahan dengan mengantarnya ke altar untuk kemudian dibagikan di antara mereka dalam makan bersama yang disebut komuni (communio = kebersamaan).
Para Diakon mengatur pembagian makanan tersebut secara adil melalui pemecahan roti dan penuangan anggur (fractio). Pemecahan roti dilakukan agar ada pemerataan di antara umat sebagai kesatuan tubuh Kristus. Perjamuan itu mereka lakukan dalam rangka mengenangkan atau anamnesis peristiwa Kristus, terutama yang digambarkan pada perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya.[2] Pengenangan dimaksudkan agar peristiwa Kristus tersebut senantiasa hadir di tengah mereka. Itulah sebabnya, selama pemecahan roti dan penuangan air anggur, umat menyanyikan Anakdomba Allah (Agnus Dei). Ini menandakan bahwa ada hubungan antara pemecahan roti dan persembahan diri Sang Anakdomba yang Kudus itu.
Dalam praktek masa kini yang berdasarkan pengertian tersebut, umat mempersembahkan roti dan anggur dan membawanya bersama kantong kolekte ke meja perjamuan. Persembahan-persembahan itu diterima oleh Pendeta atau Penatua dan diletakkan di meja perjamuan atau altar (altare=meja). Setelah pengucapan beberapa formula liturgis dan menyanyikan Sanctus (kudus, kudus, kudus) untuk menandakan kekudusan dari perjamuan ini, kemudian roti dan anggur dibagikan secara merata di antara umat. Puncak perayaan perjamuan adalah makan bersama yang disebut komuni. Komuni adalah simbol kebersamaan, sehingga ada saling perhatian dan pengertian di antara umat (bnd 1Kor 11).
Walaupun perjamuan kudus bukan sekadar perjamuan biasa, tetapi perjamuan kudus pun tidak bersifat magis atau takhyul. Perjamuan kudus tak dianggap sebagai momok yang menakutkan. Semua orang beriman dapat mengambil bagian, tetapi tidak sembarangan orang mengikutinya. Berdasarkan ukuran moral, sebuah naskah Gereja abad pertama: Didakhe 14, menuliskan bahwa persembahan mereka harus murni atau sejati. Sebelum berpartisipasi dalam perjamuan, hendaknya umat mengaku dosa dan berdamai dengan saudara-saudaranya.[3] Keadaan ini masih berlaku hingga sekitar abad ke-2.
Pada abad ke-6 hingga kini unsur Doa Bapa Kami dimasukkan dalam liturgi perjamuan sebelum komuni. Maksudnya agar kalimat: “Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni,” semakin ditonjolkan sebagai perdamaian dalam perjamuan. Di beberapa Gereja, setelah Doa Bapa Kami, umat saling bersalaman dan mengucapkan “damai Kristus besertamu” sebagai wujud simbolis dari perdamaian dalam komuni. Di antara berbagai uraian teologi, rupanya segi kesatuan atau kebersamaan cukup menonjol dalam perjamuan kudus.Kedua, perjamuan bersifat pengakuan iman. Pada pertengahan abad ke-2, perjamuan kudus juga dihubungkan dengan baptisan,[4] sebagai tanda pengakuan dosa dan pengakuan iman. Hanya mereka yang telah dibaptis yang diperbolehkan ambil bagian dalam ekaristi. Ada pergeseran bahwa kebersamaan mereka lebih bersifat eksklusif, yakni di dalam persekutuan lembaga gereja. Hanya mereka yang telah dibaptislah yang dapat berpartisipasi dalam perjamuan kudus. Mereka yang belum mengaku “Yesus adalah Tuhan” (Kurios Iesou) atau yang murtad termasuk para bidaah, tidak diperkenankan ambil bagian dalam ekaristi. Sikap moral saja dinilai tidak cukup sebelum ada sikap kebersamaan di dalam ajaran baku dari gereja yang esa waktu itu. Sikap ini dilakukan di dalam pengakuan iman dengan baptisan. Sejak itu, hal ini diberlakukan hingga kini.
Prasyarat: hanya yang telah dibaptislah yang boleh ikut perjamuan kudus, menandakan bahwa perjamuan tidak dapat sembarangan diterimakan kepada siapa saja atau dirayakan oleh siapa saja. Namun, perjamuan kudus bukan berarti hanya bagi mereka yang baik, tetapi juga kepada yang lemah. Ekaristi tetap merupakan ritus yang sakral sebab menandakan kehadiran Allah di dalamnya. Hal kesakralan ekaristi dikemukakan oleh kedua Reformator: Martin Luther (1483-1546) dan Johannes Calvin (1509-1564).
Luther berpendapat bahwa perjamuan merupakan perayaan umat. Roti dan anggur adalah untuk umat yang diberikan oleh Kristus. Puncak ekaristi: komuni, adalah tanda penyelamatan yang sempurna oleh Allah dan peluang yang sempurna bagi orang percaya untuk menanggapinya dengan iman. Ketika Yesus berkata: Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat 26:28), itu merupakan tanda akan pengampunan yang telah terjadi melalui peristiwa Kristus.[5] Dengan demikian, diperlukan iman untuk mengikuti ekaristi sebab perjamuan yang diterimakan kepada umat berhubungan dengan pengampunan dosa. Inilah yang mendorong kita untuk mengikuti sakramen ini: untuk memperoleh harta yang di dalam dan melaluinya kita menerima pengampunan dosa.[6]
Calvin berpendapat bahwa roti dan anggur dalam ekaristi merupakan simbol tubuh Kristus yang dengannya kita memperoleh kekuatan rohani.[7] Perjamuan merupakan tanda Allah memelihara anak-anak-Nya dalam persekutuan Gereja.Di dalam baptisan kita dilahirkan kembali oleh Allah, kita dimasukkannya ke dalam persekutuan Gereja-Nya dan diangkatnya menjadi anak-anak-Nya. Dan Ia melaksanakan tugas seorang kepala keluarga yang ingat akan nasib anak-anaknya dengan senantiasa menyediakan makanan bagi kita supaya kita terpelihara dan selamat di dalam kehidupan yang dimaksudkan-Nya bagi kita waktu kita dilahirkan-Nya dengan Firman-Nya.[8]
Dengan dasar “diangkat menjadi anak-Nya dan pemeliharaan Allah” itulah, baptisan menjadi prasyarat seseorang untuk mengikuti perjamuan kudus.

II. PERSIAPAN PERJAMUAN KUDUS
Agar perjamuan kudus tidak menjadi sia-sia atau mendatangkan keburukkan (bnd 1Kor 11:17) karena diikuti asal-asalan, maka dilakukanlah persiapan sebelumnya. Persiapan bertujuan untuk pemeriksaan diri (censura morum = sensus moral) setiap pribadi umat dan persekutuan Gereja, tetapi bukan penghakiman pribadi. Persiapan perjamuan kudus menekankan kembali akan undangan Tuhan untuk mengenangkan-Nya (1Kor 11:24) dan memberitakan-Nya (1Kor 11:26). Tujuan persiapan perjamuan kudus, pertama-tama bukan menyeleksi siapa yang boleh ikut dan siapa yang dilarang. Larangan mengikuti perjamuan atas diri seseorang, bukan hanya menimbulkan rasa malu tetapi juga sakit hati. Akibatnya adalah perpecahan dalam tubuh Jemaat, namun keburukan toh terus berlangsung.
Undangan Tuhan untuk ikut makan dan minum semeja dengan-Nya bersifat kudus. Ini mengingatkan Gereja bahwa penyelenggara perjamuan adalah Tuhan sendiri, bukan Gereja. Undangan itu datang dari Tuhan, bukan dari Gereja. Karena undangan-Nya itu, umat dan Gereja mempersiapkan diri sebaiknya. Yang kurang, ditambahi. Yang buruk, diperbaiki. Yang bercela, dinasihati agar pantas menerima undangan Tuhan tersebut. Hal “seleksi” mengikuti perjamuan kudus muncul dalam sejarah yang akan diuraikan pada bagian berikut.

Catatan-catatan
[1] R.J. Halliburton, The Patristic Theology of the Eucharist, The Study of Liturgy, h 202-203 menguraikan ajaran beberapa naskah dan Bapa gereja perihal kebersamaan dalam perjamuan. Antara lain:.Ignatius, Didakhe, Augustinus. Juga dikemukakan bahwa perpecahan dan pembatasan untuk berpartisipasi dalam perjamuan baru muncul setelah terjadi pemisahan ajaran Kristen ke dalam sekte-sekte.
[2] Oleh sebab itu, saat ini fractio (pemecahan roti) selalu diiringi dengan nyanyian Agnus Dei (Anakdomba Allah) untuk menggambarkan bahwa ada hubungan kesatuan antara pembagian roti, pemerataan, dan kebersatuan dengan kurban Kristus Sang Anakdomba. Joseph Martos, Doors to the Sacred, h 239-240. Saya juga berterimakasih kepada Pdt. Dede S. Muljana yang memberikan buku John H. Westerhoff III & William H. Willimon, Liturgy and Learning through the Life Cycle, h 31.
[3] K.W. Noakes, Eucharist: from the Apostolic Fathers to Irenaeus, The Study of Liturgy, h 170-171.
[4] Ibid., h 171 menurut Justinus (± 100 – ± 165) dalam I Apologia 65 dan 67.
[5] Martos, h 280-281.
[6] Martin Luther, Katekismus Besar. Penerjemah: Anwar Tjen, h 211-212.
[7] Martos, h 282.
[8] Yohanes Calvin, Institutio: Pengajaran, Agama Kristen. Penerjermah: Winarsih Arifin, Van den End, J.S. Aritonang. h 242.

Tidak ada komentar: